Fungsi Pengeluaran Oksitosin dan Ciri Khas Kontraksi Rahim

Loading...

https://www.ilmukesehatan.comKekutan his kala kedua (pengusiran).

Kekuatan his pada akhir kala pertama atau permulaan kala kedua mempunyai  ampiltudo 60 mm Hg. Interval 3 sampai 4 menit, dan durasi berkisar 60 samapi 90 detik.

Kekuatan his dan mengejan mendorong janin ke arah bawah, dan menimbulkan  keregangan yang bersifat pasif. Kekuatan his menimbulkan putar paksi dalam, penurunan kepala atau bagian terendah.

Menekan serviks di mana terdapat fleksus frankenhaiser, sehingga terjadi refleks mengejan. Kedua kekuatan his dan refleks mengejan makin mendorong bagian terendah segingga terjadilah pembukaan pintu, dengan crowning dan penipisan pireneum selanjutnya kekuatan his dan refleks mengejan menyebabkan ekspulsi kepala. Sehingga berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, muka, dan kepala seluruhnya.

Untuk meningkatkan kekuatan his dan mengejan lebih berhasil guna, posisi parturien sebagai berikut:

  • Badan dilengkunkang sehingga dagu menempel pada dada.
  • Tangan merangkul paha sehingga pantat sedikit terangkat yang menyebabkan pelebaran pintu bawah panggul melalui persendian sacro-coccygeus.
  • Dengan jalan demikian kepala bayi akan ikut serta membuka diafragma pelvis dan vulva-perineum semakin tipis.
  • Sikap ini dikerjakan bersamaan dengan his dan mengejan, sehingga resultante kekuatan menuju jalan tahir.

Kekuatan his (kontraksi) rahim pada kala ketiga.

Setelah isturahat sekitar 8 sampai 10 menit rahim berkontraksi untuk melepaskan plasenta dari insersinya, di lapisan Nitabusch. Pelepasan plasenta dapat mulai dari pinggir atau dari sentral dan mendorong ke bagian bawah rahim. Untuk melahirkan plasenta diperlukan dorongan ringan secara Crede.

Kekutan his pada kala IV.

Setelah plasenta lahir, kontraksi rahim tetap kuat dengan amplitudo sekitar 60 sampai 80 mm Hg, kekuatan kontraksi ini tidak diikuti oleh interval pembuluh darah tertutup rapat dan terjadi kesempatan membentuk trombus.

Melalui kontraksi yang kuat dan pembentukan trombus terjadi penghentian  pengeluaran darah postpartum. Kekuatan his dapat di perkuat dengan memberi obat uterotonika.

Kontraksi ikutan saat menyusui bayi sering dirasakan oleh ibu postpartum, karena pengeluaran oksitosin oleh kelenjar hipofisis posterior.

Pengeluaran oksitosin sangat penting yang berfungsi:

  • Merangsang otot polos yang terdapat di sekitar alveolus kelenjar mamae, sehingga ASI dapat dikeluarkan.
  • Oksitosin merangsang kontraksi rahim.
  • Oksitosin mempercepat involusi rahim.
  • Kontraksi otot rahim yang disebabkan oksitosin  mengurangi perdarahan postpartum.

Dalam batas yang wajar maka rasa sakit postpartum tidak memerlukan pengobatan serta dapat diatasi dengan sendirinya.