Proses Sintesa Protein di Dalam Tubuh

Loading...

https://www.ilmukesehatan.comSintesa protein

Aparat atau sintesa protein tubuh sangat kompleks, menyangkut factor yang diturunkan (factor keturunan-gene). Kegiatan dimulai dengan DNA (de-oksi ribonucleid acid) yang terdapat didalam khromosoma didalam inti sel.

DNA melakukan duplikasi dan menghasilkan RNA (ribonucleid acid) yang membawa kode bagi pembentukan suatu jenis protein tertentu.

Kode ini dibawa oleh apa yang disebut messenger-RNA dari khromosoma didalam inti kedalam cytoplasma diluar inti sel,  dan dilekatkan pada ribosoma yang terdapat melekat pada endoplasmic reticulum.

Didalam cairan protoplasma terdapat RNA yang lain, yang mengikat asam-amino tertentu, lalu membawa asam amino tersebut ke tempat pada ribosoma yang ditentukan oleh kode (codon) di dalam messenger-RNA yang telah melekat menjadi acuan (template) pada ribosoma tersebut.

Jenis RNA yang kedua ini diberi nama transfer RNA (t-RNA). Transfer RNA mengenal tempatnya pada m-RNA (messenger RNA) dengan codon tersebut diatas.

Pada t-RNA terdapat apa yang disebut anticodon, yaitu rumusan khusus yang merupakan lawan (counterpart) dari suatu codon tertentu, maka asam amino tertentu dibawa ketempat codon tertentu dengan melalui pengenalan oleh t-RNA dengan anti codonnya.

Demikian setiap t-RNA yang berbeda-beda membawa asam-amino tertentu, sehingga menjadi deretan asam-asam amino yang menurut kode yang dibawa oleh m-RNA.

Setelah asam-asam amino yang jenisnya sesuai dengan perintah kode yang didapat dari genes dibawa oleh m-RNA, maka asam-asam amino itu saling dikaitkan melalui ikatan peptide. Jadi jenis kode yang dibawa oleh m-RNA merupakan kode untuk susunan struktur primer dari suatu protein.

Terjadilah rantai panjang dari asam-asam amino, ialah susunan struktur primer polypeptide suatu protein tertentu. Setelah struktur primer dari protein disintesa secara lengkap, maka protein tersebut dilepaskan dari ribosoma.

Kemudian gaya-gaya sekunder mulai saling berinteraksi dan memberikan tambahan strukutur  sekunder, kemudian bereaksi pua gaya-gaya tertier yang memberikan struktur protein yang semakin kompleks, mencapai struktur akhir yang disebut struktur native, dan terjadilah molekul protein dengan strukturnya seperti yang terdapat didalam alam (native protein).

Setiap tingkat dari reaksi-reaksi pembentukan protein itu diatur oleh enzim-enzim tertentu, yang pada gilirannya diatur pula oleh berbagai hormone.

Bagaimana mekanisme yang tepat dari sintesa protein dan pengaturannya oleh enzim dan hormone, masih terus diteliti dan dipelajari.

Protein yang telah siap, ada yang tetap tinggal didalam sel produsennya dan dipergunakan disitu, tetapi ada pula yang dipersiapkan oleh Apparat Golgi, untuk kemudian dikeluarkan oleh sel, untuk dibawa kesel jaringan lain dan memenuhi fungsinya disitu.