Solusi Bagi Ibu yang Tidak Bisa Memberikan ASI untuk Bayinya

Loading...

Solusi Bagi Ibu yang tidak Bisa Memberikan ASI untuk BayinyaApakah Anda tahu bagi seorang ibu, bahwa beberapa saat setelah Anda melahirkan, tubuh seorang ibu akan mulai memproduksi Air Susu Ibu (ASI) dan komposisi dan volumenya selalu menyesuaikan dengan kebutuhan sang bayi. Di lima hari pertama kehidupan si kecil, ibu akan menghasilkan kolostrum untuk mencukupi kebutuhan nutrisi anaknya. Bukan saja mengenyangkan bayi, pemberian ASI juga menjadi bentuk aliran kasih sayang dari ibu untuk buah hatinya.

Bagaimana jika sang bunda atas indikasi medis tidak dapat memberikan ASI? Apakah Anda seorang ibu akan memberikan susu sapi? Semua dokter mengingatkan untuk orang tua dan tenaga kesehatan agar bayi tersebut tidak mendapatkan susu sapi di lima hari pertama kelahirannya. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk menghindari risiko alergi dini pada anak.

Jika tak dicegah, alergi dapat menurunkan kualitas hidup anak dan penanganannya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan susu formula hidrolisat parsial whey dan formula hidrolisat ekstensif kasein ketimbang susu sapi dengan formula hidrolisat ekstensif.bagi bayi baru lahir yang tak bisa mendapatkan ASI atas indikasi medis.

Kandungan probiotik pada susu hidrolisat parsial whey dapat mencegah timbulnya alergi. “Jangan berikan susu yang lain,” ujar dokter spesialis anak sub-spesialis alergi-imunologi ini seraya memotivasi agar ibu memberikan ASI eksklusif selama enam bulan. Strategi pemberian susu hidrolisat parsial tersebut merupakan rekomendasi yang berbasis bukti ilmiah. Meski begitu, Zakiudin mengingatkan formula itu tidak dapat menggantikan manfaat ASI.

Mengingat nutrisi di awal kehidupan besar pengaruhnya terhadap penyakit kronis yang mungkin menjangkiti anak di masa mendatang, ibu sangat disarankan untuk lebih jeli dalam memberikan asupan nutrisi untuk bayinya. “Kalau susu sapi diberikan di lima hari pertama usia bayi, risiko sensitisasi spesifik pada tubuh bayi akan lebih tinggi ketimbang bayi lain yang tak mengonsumsi susu sapi,” kata Prof dr Sofyan Ismael SpA(K) yang juga anggota Forum Nasional Sadar Alergi (ForNASA).