Pencernaan dan Penyerapan Zat Gizi

Loading...

https://www.ilmukesehatan.comPenyerapan zat-zat gizi sangat efisien, karena struktur mukosa dinding usus sangat sesuai dengan untuk tugas tersebut. Permukaan mukosa usus mempunyai lipatan-lipatan jaringan kearah lumen, yang disebut crystae dan lekukan-lekukan kearah jaringan, disebut cryptae lieberkuhni.

Lipatan-lipatan ini mempunyai tonjolan-tonjolan mukosa yang disebut villi (bentuk singular: villus) yang permukaannya tertutup oleh selapis sel-sel epithel.

Membrama sel dari lapisan epithel ini mempunyai lagi tonjolan-tonjolan mikroskopik yang disebut mikrovilli (singular; microvillus).

Dengan struktur lipatan dan tonjolan berbagai tingkat ini, permukaan mukosa usus menjadi lebih luas berlipat ganda, yang meninggikan daya serap dinding usus tersebut.

Usus besar (colon, Intestinum crassum) terdiri atas beberapa bagian, ialah coecum, colon sigmoideum, berakhir dicolon rectum yang mempunyai pintu anus yang tertutup keras oleh adanya sphincterani. Anus membuka di bawah kesadaran dan kemauan.

Gerakan peristalsis di dalam colon menyebabkan tiga komponen gerakan, ialah konstriksi, oscillasi dan translasi. Untuk beberapa waktu chymus bergerak bolak-balik kea rah oral dan kearah anal (gerak osilasi), sambil dipekatkan karena airnya diserap kembali ke dalam jaringan.

Gerakan chymus didalam colon lebih lambat dibandingkan dengan gerakannya didalam usus halus, karena diametercolon lebih besar.

Pada keadaan normal, tinja masuk kedalam colon rectum berangsur semakin padat, dan akhirnya dikeluarkan dari anus sebagai tinja yang padat. Pada kondisi diarrhea, penyerapan air dari chymus ini terhambat sehingga tinja bersifat cair.

Pencernaan didalam colon praktis sudah selesai dan sebagian besar zat gizi hasil pencernaan sudah diserap didaerah usus halus, sehingga chymus didaerah colon tinggal mengandung bahan sisa yang tidak dicerna dan tidak diserap. Namun begitu, didalam colon masih terjadi pemecahan komponen-komponen chymus oleh mikroorganisme penghuni colon.

Karbohidrat yang tidak dicerna oleh tubuh, mengalami fermentasi oleh mikroflora dan sisa protein serta asam amino mengalami pembusukan (putrefaksi).

Proses fermentasi menghasilkan gas CO2 dan pembusukan menghasilkan H2S yang kadang-kadang berjumlah cukup banyak dan dikeluarkan dari anus sebagai flatus (kentut).

Dianggap bahwa hasil putrefaksi lebih mengganggu tubuh dibandingkan dengan hasil fermentasi, sehingga komponen mikroflora diusahakan untuk dipengaruhi dengan memberikan susu asam, terutama pada anak-anak, agar mikroflora yang menyebabkan fermentasi dapat menguasai lingkungan, mengalahkan mikroflora yang menyebabkan putrefaksi.